Berita Online | Fokus Berita | Gerai Produk | Karikatur | Kuliner | Panorama Wisata | Pengobatan Tradisional | Sejarah & IPTEK | Tips & Trik | Video Tube | Pojok Game | Pojok Niaga
 





Apa betul impor beras karena pemerintah gagal swasembada beras ?

Bertubi-tubi pemerintahan Jokowi di terjang isu, dari penjualan aset ke asing atau aseng dan yang kini sedang santer permasalahan impor beras yang digiring seakan pemerintah gagal swasembada beras. Walau terkesan ngeri-ngeri sedap, tapi memang kritikan atau masukan sangat di butuhkan Presiden Jokowi agar kinerja beliau dan para mentrinya memcapai target yang maksimal, "kritik itu positive tapi klo nyinyir dan fitnah itu penyakit".

Sebelum masuk ke inti masalahnya, mari kita cari tahu secara tersetruktur apa masalah yang sebenarnya.

Mengapa harga beras naik ?

Ada apa dengan beras, kenapa harganya naik ? apakah harga beras naik karena kita gagal swasembada beras ? Jika kita bicara beras maka kita perlu cari tahu sumber utamanya beras yaitu gabah. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama Oktober 2017, rata-rata harga gabah di tingkat petani mengalami kenaikan dibanding September 2017. Menurut Kepala BPS Suhariyanto "Jadi ada kenaikan harga gabah, baik di level petani maupun di penggilingan".

Laporan BPS tersebut berdasarkan 1.218 transaksi penjualan gabah di 23 provinsi selama Oktober 2017. Tercatat transaksi gabah kering panen sebesar 69,05%, gabah kualitas rendah 18,39% dan gabah kering giling 12,56%.

Satu masalah sudah mulai terkuak ternyata ada kenaikan harga gabah di level petani dan penggilingan, sudah barang tentu maka wajar jika harga beras naik. Dan yang juga perlu di garisbawahi panen yang belum merata.

"Ini ada panen, tapi masih sporadis di beberapa tempat. Kalau panen raya kan akhir Februari," kata Ketua Satgas Pangan Polri, Setyo Wasisto.

Kenapa harga gabah harus naik ?

Kenaikan harga gabah merupakan indikator bahwa nilai tukar petani (NTP) secara nasional meningkat. Menurut BPS kenaikan NTP itu terlihat sejak September 2017. Ini harusnya patut di syukuri karena dengan kenaikan NTP maka akan berdampak langsung ke para petani yaitu kemampuan atau daya beli petani akan menguat (jika harga gabahnya tidak naik-naik kasihan juga petani kita).

Kenapa harus impor beras ?

Langsung saja kita perhatikan paparan dari orang nomor satu di Indonesia, Presdien Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi memastikan bahwa impor beras sebanyak 500 ribu ton yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan sengaja dilakukan untuk menjaga stok di gudang Bulog.

"Itu untuk cadangan Bulog, masuk ke gudang Bulog, masuk ke stok," kata Jokowi usai meninjau program padat karya tunai di Gemba Waimital, Seram Bagian Barat, Maluku, Rabu (14/02/2018).

Maksud dari menjaga stok beras di gudang Bulog

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan, penyimpanan beras impor bertujuan memperkuat cadangan beras nasional. Dengan demikian, tidak akan merusak harga gabah petani lokal seperti yang dikhawatirkan sejumlah pengamat pertanian.

"Jadi beras impor itu adalah untuk mengisi cadangan dan dalam rangka stabilisasi harga, karena kita ketahui di hukum ekonomi itu adalah supply dan demand. Harganya naik terus karena supply-nya berkurang," jelas Enggartiasto Lukita.

Apa dampak dari harga beras yang tidak terkendali ?

Menurut BI (Bank Indonesia) pengaruh kenaikan harga beras di pasar mampu menjadi penggerak inflasi pada Januari 2018.

Untuk itu, faktor ketersediaan stok dan kelancaran distribusi menjadi tantangan yang harus segera diselesaikan dalam waktu dekat. Karena beras menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat, sehingga kenaikan harga beras sangat berdampak kepada laju inflasi.

Apakah benar di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo kita sudah swasembada beras ?

Salah satu target pemerintahan Jokowi-JK yakni mewujudkan swasembada pangan. Memasuki jelang tahun ketiga, kebijakan pemerintah telah berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan produksi maupun kesejahteraan petani.

Produksi Gabah Kering Giling (GKG) pada 2015 menembus 75,55 juta ton. Angka ini meningkat 4,66% dibandingkan 2014 yakni 70,85 juta dan di 2016 dengan capaian 79,1 juta ton. Di tahun ini juga tercatat, Indonesia untuk pertama kalinya swasembada beras setelah 32 tahun.

Selain beras, peningkatan produksi juga terjadi pada komoditi bawang merah dengan produksi 2016 yakni 1,29 juta ton meningkat 5,74% dibandingkan 2015 yang mencapai 1,22 juta. Untuk komoditi cabai, produksi di 2016 capai 78.167 ton sedangkan kebutuhannya yakni 54.346 juta ton.

Produksi jagung pun demikian, naik 4,2 juta ton atau 21,9%. Peningkatan produksi jagung ini setara Rp 13,2 triliun. Peningkatan produksi tersebut berpengaruh terhadap kebijakan impor pemerintah. Pada 2016, pemerintah sudah tidak mengeluarkan rekomendasi impor, beras, cabai, dan bawang merah.

"Dengan demikian Kementerian Pertanian mampu memenuhi ekspektasi target swasembada dalam hanya dalam 2 tahun," ucap Agung dalam keterangan tertulisnya, Kamis (13/07/2017).

Kesimpulan

Kenaikan harga beras bukan dikarenakan pemerintah gagal swasembada beras, melainkan karena harga gabah di tingkat petani dan penggilingan yang memang naik, serta panen yang belum merata. Jika demikian harusnya kita kurangi ego kita, jangan hanya menginginkan harga beras murah dengan mengabaikan nasib petani-petani kita. Dengan harga beras yang naik maka akan berdampak kepada penguatan daya beli para petani. Sedangkan impor beras brtujuan untuk menstabilkan stok beras di gudang bulog sehingga tdiak terjadi inflasi yang tidak terkendali. Salam cerdas.


Sumber berita terkait :